Slip Knot Bukan Slipknot

Seperti yang sudah dijanjikan, saya akan memberikan jenis-jenis tusukan dalam //crochet// alias merenda. Ada banyak, sih, tapi kita belajar yang paling dasar dulu.

Sudah sedia jarum renda dan benang di tangan?

Pertama-tama, kita belajar slip knot dulu. Bukan, bukan band metal yang kalo nyanyi bikin tenggorokan sakit. Slip knot ini adalah mengunci benang di awal renda supaya tidak lepas-lepas. Sila dipelototi baik-baik. Foto saya ambil dari website anniescatalog.

slip-knot-chain-stitch-3

Ball end artinya bagian ujung benang, sementara free end artinya gulungan benang.

Bikin lingkaran, posisikan ujung benang alias ball end di bagian bawah…

Kemudian, kaitkan ke benang yang free end.

slip-knot-chain-stitch-4

Lalu, tariiiik maaaang…

slip-knot-chain-stitch-5.jpg

Jadilah begini…

slip-knot-chain-stitch-6

Slip knot selalu dipakai di awal kegiatan merenda. Tapi, slip knot tidak dipakai di tengah renda saat mengganti benang.

Sudah bisa? Peganglah si slip knot supaya jangan lepas, lalu pastikan benang yang akan direnda menegang di jemari supaya lebih mudah dikaitkan nantinya.

slip-knot-chain-stitch-8

Next, kita buat dasarnya teknik renda, yaitu tusuk rantai atau dalam bahasa universalnya //chain// yang ditulis dengan kode CH (ini bukan rantai kimia karbon hidrogen lho, rantai renda).

Caranya, tarik benang bagian free end dan keluarkan dari slip knot.

slip-knot-chain-stitch-9

Satu kali tarik keluar, itu satu CH.

slip-knot-chain-stitch-10

Tarik lagi benang dan keluarkan dari lubang CH pertama. Jadilah dia CH kedua atau 2CH.

slip-knot-chain-stitch-11

Buat sepanjang-panjangnya sesuai kebutuhan. Nah, kalau sudah panjang, jepitan tangan jangan terus di slip knot, tapi dekatkan ke tusukan terbaru.

slip-knot-chain-stitch-13

Ini teknik dasarnya. Di tulisan selanjutnya, kita belajar teknik dasar lain. Kalau bingung dengan penjelasan saya, sila kunjungi website anniescatalog supaya lebih tercerahkan.

n c02

Merenda Pakai Apa?

Hobi yang satu ini saya mulai ketika memiliki begitu banyak waktu luang di bangku kuliah. Saat itu, saya sedang menyusun skripsi yang tak kunjung selesai dan membosankan. Untuk membakar waktu, saya pun mencari hal yang kira-kira bisa bermanfaat. Salah satunya merenda atau dalam bahasa gaulnya: crochet.

Crochet adalah salah satu teknik ‘mengacak-acak’ benang untuk membentuknya menjadi sebuah produk bernilai tambah seperti baju, topi, sepatu dan lain-lain. Produk hasil crochet memiliki pola seperti rantai yang bersusun dan sambung-menyambung menjadi satu. Dengan pola tertentu, segulung benang bisa menjadi apapun yang diinginkan.

Kadang, crochet tertukar dengan knit atau dalam bahasa vulgarnya disebut sebagai merajut. Padahal, dua pekerjaan ini menggunakan teknik yang berbeda meskipun tujuannya sama.

Crochet dan knit memiliki satu perbedaan dasar, yaitu pada penggunaan jarum. Pada crochet, jarum yang dipakai (hook/hakpen/hakken) hanya satu, yaitu yang ujungnya terdapat lengkungan seperti kait. Sementara, knit menggunakan dua jarum yang tidak berkait. Mudahnya, seperti sumpit.

Nah, karena hanya menguasai teknik crochet, saya hanya akan mengulik soal bagaimana merenda. Saya pun masih terus belajar dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang ingin mulai terjun ke dalam dunia renda-merenda.

Apa yang harus disiapkan untuk merenda? Pastinya adalah jarum dan benang. Ini semacam bahan pokok yang diperlukan untuk membuat benang menjadi baju/syal/sepatu/celana/dll.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, teknik crochet hanya menggunakan satu jarum yang berkait di ujungnya. Jarum ini memiliki banyak ukuran, bergantung pemakaian benang. Semakin besar diameter benang yang kita pakai, semakin besar pula kait jarum yang kita gunakan.

11

Jenis-jenis jarum crochet

 

Untuk merenda, hampir semua benang bisa digunakan. Kecuali benang jahit, ya, kekecilan. Biasanya, pemakaian benang bergantung apa yang ingin kita buat. Benang wol bisa dipakai untuk membuat sewater, sepatu bayi, syal dan lain-lain. Benang katun bisa dipakai untuk membuat baju, syal, tempat minum, taplak meja dan lain-lain.

Itu dua bahan utama untuk merenda alias crochet. Alat-alat sekunder lain bisa menyusul seperti gunting, benang jahit, jarum jahit, klep, dan lain-lain.

Di tulisan selanjutnya, kita akan belajar jenis-jenis tusukan dalam crochet. Siapkan jarum dan benangmu, ready to fight! n c02

Merajut Kerjaan Orang Tua?

Merajut. Ketika mendengar ini, dari kotak memori seseorang akan muncul sebuah bayangan seorang nenek gendut duduk di kursi goyang sambil memainkan dua batang sejenis sumpit yang melilit di benang-benang. Merajut sudah terasosiasi langsung pada perempuan tua yang tidak tahu bagaimana menghabiskan waktunya menjelang mati.

Tapiii… tunggu dulu. Sepertinya mindset itu perlu diubah karena sebetulnya merajut adalah pekerjaan yang menyenangkan. Mengapa? Karena merajut membuat kamu lebih sabar, lebih tenang, punya tujuan, dan mampu menghilangkan stres (kalau sudah tahu caranya).

Menurut hasil penelitian Cardiff University, yang saya kutip dari laman ini, merajut dapat meningkatkan konsentrasi dan ketajaman otak, memperbaiki koordinasi gerak tangan dan mata, dan menambah kemampuan matematis serta logis seseorang. Menyesuaikan ukuran panjang dan lebar kain merangsang otak untuk berpikir dan berhitung.

Merajut bisa jadi terapi pemulihan nyeri kronis, gangguan perkembangan dan peningkatan aktivitas motorik pada anak-anak. Kegiatan ini jadi salah satu yang disarankan ahli untuk merawat pasien trauma. Kegiatan ini juga sudah sering menjadi terapi bagi tentara-tentara yang baru pulang dari medan perang.

Saya mengenal rajutan pertama kali oleh mama yang senang membuat taplak. Tapi karena keterbatasan ilmu, mama cuma bisa bikin taplak dan that’s it. Padahal di film-film barat, banyak sekali yang bisa dibuat dari seonggok benang. Mulai dari syal, topi, sepatu bayi, rompi, sweater, bahkan selimut!

Akhirnya, saya mengurungkan niat belajar merajut. Selain tidak punya panduan lain, juga karena waktu itu saya belum begitu tertarik dengan rajutan.

Hobi ini kembali muncul ketika saya melihat seorang kawan membuat semacam cover untuk buku catatan kuliahnya. Dia bilang, rajutan itu dibuatnya sendiri. Maka, saya memohon padanya untuk diajari. Dan dia pun mengamini.

Dia memberi saya benang dan meminjamkan hakpen (jarum untuk rajut crochet). Mulailah saya memelintir benang menjadi sesuatu.

Tapi, merajut adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Saya sempat stres dan tidak kunjung paham dengan cara menyambungkan benang dari baris pertama ke baris kedua. Kawan saya pun pusing melihat saya yang tak kunjung pandai. Maklum, saya jenis orang yang lamban mempelajari sesuatu, apalagi kalau gurunya galak.

Kawan sampai putus asa mengajari saya. Dia mengatakan saya mungkin tidak akan bisa merajut (semacam dokter yang bilang ke ibu-ibu kalau dia tidak akan pernah bisa punya anak).

Bagai tersulut api, saya akhirnya berhenti belajar dengan kawan ini. Saya membeli buku merajut dan belajar sendiri. Well, saya tidak butuh bantuan orang lain, secara langsung.

Awalnya sulit, memang, belajar merajut sendiri. Tapi lama-lama saya toh paham juga, meskipun sampai sekarang belum bisa merajut sambil menutup mata. Saya belajar jenis-jenis tusukan crochet dan belajar membaca pola. Akhirnya? Ini karya pertama saya setelah berhasil membaca pola.

2
judul di bukunya sih ‘taplak kerang’

Bosan dengan pola dalam buku, saya mulai mencari pola sendiri di internet. Salah satunya adalah pola bikini ini. Hahaha….

4
ini triangle bikini

Kemudian saya juga membuat tempat minum yang sekarang tidak tahu di mana rimbanya.

1
bahkan tempat minumnya pun tidak tahu di mana rimbanya

Sempat bosan, saya berhenti merajut. Tapi sekarang, saya punya partner in crime di kantor. Kami selalu meluangkan waktu untuk belajar kelompok membuat prakarya.

Nah, siapa bilang merajut cuma kerjaan nenek-nenek?

n c02