Merajut Kerjaan Orang Tua?

Merajut. Ketika mendengar ini, dari kotak memori seseorang akan muncul sebuah bayangan seorang nenek gendut duduk di kursi goyang sambil memainkan dua batang sejenis sumpit yang melilit di benang-benang. Merajut sudah terasosiasi langsung pada perempuan tua yang tidak tahu bagaimana menghabiskan waktunya menjelang mati.

Tapiii… tunggu dulu. Sepertinya mindset itu perlu diubah karena sebetulnya merajut adalah pekerjaan yang menyenangkan. Mengapa? Karena merajut membuat kamu lebih sabar, lebih tenang, punya tujuan, dan mampu menghilangkan stres (kalau sudah tahu caranya).

Menurut hasil penelitian Cardiff University, yang saya kutip dari laman ini, merajut dapat meningkatkan konsentrasi dan ketajaman otak, memperbaiki koordinasi gerak tangan dan mata, dan menambah kemampuan matematis serta logis seseorang. Menyesuaikan ukuran panjang dan lebar kain merangsang otak untuk berpikir dan berhitung.

Merajut bisa jadi terapi pemulihan nyeri kronis, gangguan perkembangan dan peningkatan aktivitas motorik pada anak-anak. Kegiatan ini jadi salah satu yang disarankan ahli untuk merawat pasien trauma. Kegiatan ini juga sudah sering menjadi terapi bagi tentara-tentara yang baru pulang dari medan perang.

Saya mengenal rajutan pertama kali oleh mama yang senang membuat taplak. Tapi karena keterbatasan ilmu, mama cuma bisa bikin taplak dan that’s it. Padahal di film-film barat, banyak sekali yang bisa dibuat dari seonggok benang. Mulai dari syal, topi, sepatu bayi, rompi, sweater, bahkan selimut!

Akhirnya, saya mengurungkan niat belajar merajut. Selain tidak punya panduan lain, juga karena waktu itu saya belum begitu tertarik dengan rajutan.

Hobi ini kembali muncul ketika saya melihat seorang kawan membuat semacam cover untuk buku catatan kuliahnya. Dia bilang, rajutan itu dibuatnya sendiri. Maka, saya memohon padanya untuk diajari. Dan dia pun mengamini.

Dia memberi saya benang dan meminjamkan hakpen (jarum untuk rajut crochet). Mulailah saya memelintir benang menjadi sesuatu.

Tapi, merajut adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Saya sempat stres dan tidak kunjung paham dengan cara menyambungkan benang dari baris pertama ke baris kedua. Kawan saya pun pusing melihat saya yang tak kunjung pandai. Maklum, saya jenis orang yang lamban mempelajari sesuatu, apalagi kalau gurunya galak.

Kawan sampai putus asa mengajari saya. Dia mengatakan saya mungkin tidak akan bisa merajut (semacam dokter yang bilang ke ibu-ibu kalau dia tidak akan pernah bisa punya anak).

Bagai tersulut api, saya akhirnya berhenti belajar dengan kawan ini. Saya membeli buku merajut dan belajar sendiri. Well, saya tidak butuh bantuan orang lain, secara langsung.

Awalnya sulit, memang, belajar merajut sendiri. Tapi lama-lama saya toh paham juga, meskipun sampai sekarang belum bisa merajut sambil menutup mata. Saya belajar jenis-jenis tusukan crochet dan belajar membaca pola. Akhirnya? Ini karya pertama saya setelah berhasil membaca pola.

2
judul di bukunya sih ‘taplak kerang’

Bosan dengan pola dalam buku, saya mulai mencari pola sendiri di internet. Salah satunya adalah pola bikini ini. Hahaha….

4
ini triangle bikini

Kemudian saya juga membuat tempat minum yang sekarang tidak tahu di mana rimbanya.

1
bahkan tempat minumnya pun tidak tahu di mana rimbanya

Sempat bosan, saya berhenti merajut. Tapi sekarang, saya punya partner in crime di kantor. Kami selalu meluangkan waktu untuk belajar kelompok membuat prakarya.

Nah, siapa bilang merajut cuma kerjaan nenek-nenek?

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s